Minggu, 25 Agustus 2013

Kemandirian Anak Usia Dini



Anak usia dini sedang dalam masa pertumbuhan dan perkembangan fisik maupun mental yang sangat pesat, maka pendidikan anak usia dini memiliki fungsi utama mengembangkan semua aspek perkembangan anak, meliputi perkembangan kognitif, bahasa, fisik (motorik halus dan motorik kasar), sosial dan emosional. Perlu stimulasi untuk mengembangkan aspek perkembangan anak. Pendidik merupakan faktor pendukung untuk mengembangkan aspek aspek perkembangan anak. Pendidik memerlukan materi pembelajaran yang menarik, menyenangkan, dalam setiap kegiatan pembelajaran anak. Pembelajaran akan lebih mengena jika anak mendapat kegiatan yang dialami anak secara langsung karena kegiatan pembelajaran yang dirancang  pendidik akan dilaksanakan anak menjadi salah satu cara untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak.
Hal yang penting dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak yaitu makanan bergizi yang seimbang serta kegiatan yang merangsang perkembangan anak. Selain pertumbuhan perkembangan fisik dan motorik, juga perkembangan perilaku yang diperlukan anak dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Hal ini diwujudkan dalam bentuk pemberian pengalaman, latihan-latihan pada saat kegiatan di sekolah berlangsung.
Pembentukan moral dan perilaku anak di TK berfungsi untuk menanamkan pembiasaan  sikap dan perilaku yang merupakan dasar utama dalam pembentukan pribadi yang membantu anak agar tumbuh menjadi pribadi yang matang dan mandiri, serta menanamkan budi pekerti yang baik, melatih anak untuk dapat membedakan sikap antara yang baik dan buruk, serta menanamkan kemandirian dalam kehidupan sehari-hari.
Untuk dapat mengembangkan perilaku yang baik terutama dalam hal kemandirian  yang benar perlu adanya perencanaan pembelajaran  dan cara yang menarik agar anak dapat melaksanakan kegiatan dengan senang dan dapat menerapkan kehidupan sehari-hari di rumah, terutama dalam penanaman kemandirian pada anak.  Kemandirian pada anak yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari yang dilakukan di rumah selain di sekolah. Penanaman kemandirian untuk anak dapat dilakukan melalui kegiatan yang ada disekolah agar anak lebih memahami dan mengerti serta dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari di rumah.

Anak Pemalu



Pemalu dapat didefinisikan sebagai perasaaan gelisah yang dialami seseorang terhadap pandanagn oranglain atas dirinya. Perilaku pemalu adalah sikap bawaan sejak lahir, hal ini nampak bahwa ada bayi yang cenderung menarik diri dengan menangis bila didekati orang selain ibunya atau pengasuhnya. Hal ini adalah wajar, karena setiap individu memerlukan waktu untuk dapat beradaptasi dengan lingkungan yang baru.
A.  CIRI-CIRI ANAK PEMALU
Sikap pemalu pada anak bisa dikatakan wajar apabila ditunjukan dengan proporsisi yang cukup. Apabila tanda-tanda pemalu ditunjukan anak dengan sikap yang berlebihan, hal itu perlu diwaspadai, baik oleh orangtua maupun pendidik atau guru. Karena pada dasarnya sikap ini berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak dalam tahapan selanjutnya.
Biasanya anak menunjukkan rasa malu pada seseorang yang belum dikenal. Pada umur 5 tahun rasa malu juga ditunjukkan pada saat seseorang akan memberikan penilaian terhadap tingkah lakunya.
Ciri-ciri lain yang lebih spesifik dari sifat pemalu tampak dari perilaku anak sebagai berikut:
1)    Menghindari kontak mata dengan oranglain
Hal ini tampak ketika anak melihat kita sekilas dan saat kita memperhatikannya, maka dengan buru-buru anak akan mengalihkan pandangannya kearah lain. Hal lainnya adalah ketika kita mengajak anak berbicara, anak terkesan menunduk dan tidak memperhatikan kita.
2)   Tidak banyak bicara
Dalam hal ini bila ditanya anak hanya akan menjawab antara “ya atau tidak”. Untuk anak yang lebih ekstrim, ketika ditanya anak hanya akan mengengguk dan menggeleng.
3)   Tidak memiliki keberanian untuk tampil didepan umum
Bila tampil didepan orang banyak anak mengalami demam panggung yang ditandai dengan gemetar, berkeringat, dan lainnya.

B.  FAKTOR PENYEBAB PEMALU
Faktor lain yang mempengaruhi perilaku anak menjadi pemalu dapat disebabkan oleh:
1)    Masa Kanak-Kanak yang Kurang Gembira
Ada sebagian anak yang mengalami hal-hal yang kurang menyenangkan pada masa kanak-kanaknya. Misalnya orangtua sering berpindah-pindah, orangtua bercerai, orangtua meninggal, dipaksa pindah sekolah atau dihina oleh teman dan sebagainya. Semua pengalaman itu mengakibatkan terganggunya hubungan sosial mereka dengan lingkungan, suka menghindar atau mundur, dan tidak berani bergaul dengan orang yang tidak dikenal.
2)    Kurang Bermasyarakat
Sifat pemalu akan terjadi bila anak hidup dengan latar belakang dimana ia diabaikan oleh orangtuanya, atau dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang mengasingkan diri, terlalu dikekang sehingga mereka tidak dapat mengalami hubungan sosial yang normal dengan masyarakat.
3)   Perasaan Rendah Diri
Mungkin perasaan malu itu timbul karena anak bertubuh pendek, bersikap kaku atau mempunyai kebiasaan yang jelek, lalu berusaha menutupinya dengan cara menyendiri atau menghindari pergaulan dengan oranglain. Karena kurang merasa percaya diri dan beranggapan dirinya tidak sebanding dengan oranglain, ia tidak suka memperlihatkan diri di keramaian.
4)   Pandangan Orang Lain
Melabel anak dengan sebutan pemalu. Anak yang dilabel dengan sebutan terseut akan membuat dirinya tidak berani mencoba dan mengalami kesulitan untuk berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya.
sifat pemalu juga bisa muncul bila anak pernah dicemooh atau diccela didepan oranglain, sehingga menyebabkan si anak merasa takut pada reaksi yang diberikan oranglain terhadap perbuatan dan tingkah lakunya.
Banyak anak yang menjadi pemalu karena pandangan orang lain yang telah merasuk ke dalam dirinya sejak kecil. Mungkin orang dewasa sering mengatakan bahwa ia pemalu, bahwa guru dan teman-temannya berpendapat sama, sehingga anak ini benar-benar menjadi seorang pemalu.
C.  DAMPAK SIKAP PEMALU TERHADAP PERKEMBANGAN ANAK
Dampak lain yang dapat ditimbulkan oleh sifat pemalu antara lain adalah:
1.     Kehilangan keberanian mengemukakan pendapat.
2.    Anak pemalu dapat mengalami krisis eksistensi dalam kelompok sebaya.
3.    Anak pemalu dalam pergaulan tidak cepat menjadi hangat terutama dengan orang asing.
4.    Dapat memicu kebiasaan berkelanjutan.
Misal : Ketika sedang disekolah, karena malu mengatakan ingin buang air kecil akhirnya mengompol. Keadaan ini dapat terus berlanjut, bila tidak segera ditangani, sehingga anak mempunyai kebiasaan mengompol.
5.    Anak menjadi kurang kreatif karena tidak memiliki kepercayaan diri untuk menunjukkan potensi dirinya.

D.  CARA MENGATASI ANAK PEMALU
Ada beberapa cara untuk mengatasi anak pemalu:
1.     Memerlukan Introspeksi
Orangtua atau orang dewasa memberikan rasa aman yang cukup kepada anak-anak dan mengasihi mereka. Anak diberi kesempatan untuk mengungkapkan si hatinya.
2.    Memberikan Kepercayaan
Dengan membangun rasa percaya diri terhadap orang lain. Orangtua harus mempercayai anak supaya dengan semakin dipercayai anak belajar semakin percaya dengan orang lain.
3.    Memperluas Hubungan Sosial
Bila anak menjadi pemalu karena tidak mempunyai kesempatan untuk sering bergaul, maka sebaiknya orangtua mengajak anak untuk berinteraksi dengan lingkungan sehingga anak  terdorong untuk bergaul dengan oranglain.
Pemalu termasuk salah satu permasalahan anak usia dini, dimana kemampuan anak dalam bersosialisasi dan berinteraksi belum berlangsung maksimal. Untuk itu anak memerlukan proses adaptasi atau penyesuaian diri dengan linglkungannya. Apabila proses adaptasi ini dapat dilalui dengan baik, maka proses interaksi akan berjalan dengan optimal. Hal ini dipengaruhi oleh pola asuh yang diberikan orangtua dan lingkungan sekitar dalam memberikan dan membenruk kemampuan sosial  kepada anak. Pada dasarnya sikap pemalu berkaitan denngan perasaan takut. Perasaan takut yang dimaksud adalah bentuk perilaku anak yang tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkan apa yang dirasakannya.
Sebagai orangtua atau pendidik harusnya bersikap tanggap terhadap sikap pemalu anak pemalu. Karena perlu waktu yang cukup lama untuk mengarahkan anak. Selain itu kerjasama antara pendidik dengan orangtua harus di adakan untuk menghadapi sikap anak yang pemalu. Sehingga sikap anak dapat diminimalisir.

Teknologi (Mengulas Artikel)



Choosing the right technological tools for your school or country's needs is a vital step in ensuring the effective use of ICT in Education. This section gives information about technologies that can be used in education and about challenges in using ICT in Education.
Realizing educational objectives of the "information age" requires integrating modern forms of information and communication technologies (ICT) into education. To do this effectively, education planners, principals, teachers, and technology specialists must make many decisions in the following areas: technical, training, financial, pedagogical and infrastructure requirements. For many, this is a complex task similar to not just learning a new language, but learning how to teach in a new language.
This section looks at the tools themselves, from the satellites that link nations, to the machines that students work on in the classroom. It is intended to help educators, policy makers, planners, curriculum developers and others find their way through the often confusing maze of ICT tools, terms and systems.

Artikel ini mengulas tentang memilih alat-alat teknologi yang tepat untuk sekolah atau kebutuhan negara adalah langkah penting dalam memastikan penggunaan efektif TIK dalam Pendidikan. Informasi tentang teknologi yang dapat digunakan dalam pendidikan dan mengenai tantangan dalam menggunakan TIK dalam Pendidikan.
Menyadari tujuan pendidikan dari "era informasi" memerlukan mengintegrasikan bentuk modern teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dalam pendidikan. Untuk melakukan ini secara efektif, perencana pendidikan, kepala sekolah, guru, dan ahli teknologi harus membuat banyak keputusan dalam bidang berikut: teknis, pelatihan, keuangan, persyaratan pedagogis dan infrastruktur. Bagi banyak orang, ini adalah tugas kompleks yang sama untuk tidak hanya belajar bahasa baru, tetapi belajar bagaimana cara mengajar dalam bahasa baru. Bagian ini melihat pada alat itu sendiri, dari satelit bahwa negara-negara link, dengan mesin yang bekerja pada siswa di kelas. Hal ini dimaksudkan untuk membantu para pendidik, pembuat kebijakan, perencana, pengembang kurikulum dan lain-lain menemukan jalan mereka melalui labirin sering membingungkan alat TIK, syarat dan sistem.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah membawa  perubahan di hampir semua aspek kehidupan manusia dimana berbagai permasalahan hanya dapat dipecahkan kecuali dengan upaya penguasaan dan peningkatan ilmu pengetahuan dan teknologi. Agar mampu berperan dalam persaingan global, maka sebagai bangsa kita perlu terus mengembangkan dan meningkatkan kualitas sumber daya manusianya.  Oleh karena itu, peningkatan kualitas alat teknologi merupakan kenyataan yang harus dilakukan secara terencana, terarah, intensif, efektif dan efisien dalam proses pembangunan, kalau tidak ingin bangsa ini kalah bersaing dalam menjalani era globalisasi tersebut. Dalam era global seperti sekarang ini, setuju atau tidak, mau atau tidak mau, kita harus berhubungan dengan teknologi khususnya teknologi informasi. Hal ini disebabkan karena teknologi tersebut telah mempengaruhi kehidupan kita sehari-hari. Oleh karena itu, kita sebaiknya tidak gagap teknologi. Banyak hasil penelitian menunjukkan bahwa siapa yang terlambat menguasaI informasi, maka terlambat pulalah memperoleh kesempatan-kesempatan untuk maju.
Teknologi informasi (TI) merupakan salah satu sub-sektor  teknologi yang berkembang sangat pesat dan aplikasinya sangat luas dewasa ini. Aplikasi TI, misalnya multimedia dan web, dalam bidang pendidikan, melahirkan banyak terobosan baru dalam meningkatkan efisiensi dan efektivitas proses pembelajaran.